Malam itu gelap, jangan lebih digelapkan oleh dosa-dosamu, berilah ruang utk lebih menabur pahala.
Di kedinginan malam, aku terpaku tergigit ujian yang kulalui. Hatiku rimas diamuk gelombang krisis yang datangnya waktu demi waktu. Suasana malam yang tenang bagaikan satu sindiran buatku.
Jari-jemari ini terus menari-nari mengolah setiap detik hatiku. Detik hati yang takkan pernah berhenti di batasan waktu sampai ajal menjemput kembali. Mengapa aku tidak tenang ketika diusap rintik-rintik hujan ini? “hati resah kerana dosa!”, Ya dosa yang meruntuh kukuh hatiku, hingga ia bocor dan ternoda oleh kemungkaran dan maksiat.
Mengapa anggotaku tidak bermaya ya TUHAN. Aku ingin merintih dan mendengar segala pujukan-MU agar hati ini dekat dan ingat pada-MU ya ALLAH.
Pesan ulama, “dirikanlah sembahyang jika ingin bercakap-cakap dengan Allah”.
“Bukalah Al-Quran dan bacalah ayat-ayatNYA jika kau ingin dengar ‘suara-NYA’. Wahai diri, gelapnya hatiku. Dan betapa tinggi gunung dosa yang bertakhta di hati di dalamnya.
Di luar, hujan kian reda. Kilat dan guruh sudah hilang kekuatan yang dipinjamkan padanya. Dingin malam ini seolah-olah memujuk hatiku yang merajuk. Dingin air wudhuk yang mencecah wajah, bagai air hujan yang kian lembut membelai malam di pentas bumi yang masih basah.
Ya latif, aku dambakan kebaikan
Yang melahirkan kebaikan
Aku pohon ketenangan
Yang memberikan ketenangan
Pinggirkan segala sengketa
Hampirkan semua cinta
Tanpa dendam
Tanpa prasangka
Jika benar yang kau di Raudhah itu
Hanya ALLAH…

No comments:
Post a Comment